Kerja di Prancis

Catatan bekerja di Prancis[11] – Kisah masa probation kerja

Di perusahaan manapun, pasti ada dong ya yang namanya masa probation kerja. Di Prancis, jenis kontrak kerja apapun selalu ada masa probation, mau itu kontrak kerja karyawan tetap (CDI) ataupun kontrak kerja karyawan sementara dengan durasi waktu tertentu (CDD, Interim). Durasi masa percobaan ini sudah ditetapkan tergantung jenis kontrak kerja kita. Bisa jadi beberapa hari, seminggu, sebulan, atau bahkan sampai beberapa bulan untuk kontrak kerja karyawan tetap. Selama masa percobaan, perusahaan maupun karyawan berhak memutuskan kontrak kerja dengan memberitahu pihak lain dengan delai waktu tertentu yang ditentukan dari sudah berapa lama sang karyawan tersebut bekerja di perusahaan.

Nah, kali ini saya ingin berbagi sebuah kisah alias bergosip mengenai kejadian yang baru saja terjadi kepada seorang kolega yang bekerja dengan saya yang di hire pertengahan tahun 2019 lampau. Namun masa probation nya diputus kantor sehingga bulan Maret kemarin dia sudah keluar setelah bekerja selama 8 bulan. Awalnya dia punya masa probation 4 bulan, namun diperpanjangkan sekali lagi sehingga totalnya 8 bulan. Sebenernya kisah-kisah kolega yang masa probation-nya tidak diluluskan perusahaan dari jaman dulu kerja di perusahaan-perusahaan lain sudah ada, namun kisah dia ini terjadi sangat menarik untuk diambil pelajarannya.

Sedikit cerita mengenai suasana kantor, jadi kantor kita kebetulan bekerja dengan site lain yang berada di negara Belarus yang kental dengan budaya Rusianya. Di kantor Paris sendiri pegawainya berasal dari berbagai macam negara sehingga interaksi kami cukup multikultural. Kolega baru saya ini merupakan orang India dan baru saja pindah dari sebuah provinsi lain di Prancis. Dia masuk ke tim dengan role yang sama seperti saya yaitu QA engineer namun akan bekerja untuk produk yang berbeda. Jadi di awal, saya bertanggung jawab untuk meng-coach dia mengenai teknis know-how QA secara general sebelum dia ditempatkan bekerja di sebuah produk lain. Nah, saya pengen ceritain poin-poin yang bikin masa probation gagal dari kisah nyata si anak baru ini juga mengambil pelajaran kenapa sih dia bisa di cut sama perusahaan.

Jadi anak baru gak perlu gaya-gaya ala-ala

Dari hari pertama dia kerja saja, sudah ada kejadian yang buat saya red flag. Sebagai tim development, kita boleh memilih menggunakan laptop Windows atau Mac dan laptop ini sudah dipersiapkan beberapa hari sebelum kedatangan karyawan baru sesuai permintaan tipe laptop yang dia pilih. Dia pilih pakai Macbook jadi di hari pertama dia, sewaktu dia mulai konfigurasi laptopnya dengan berbagai macam tools dan aplikasi, keliatan dong kalau dia itu gak pernah pake Macbook seumur hidupnya. Sampe-sampe dia pikir installer .dmg itu musti di konvert dulu ke format lain supaya bisa nginstall aplikasi.

Buat developer atau tester engineer, kita musti konfigurasi environment local dan kedepannya banyak hal teknis yang musti dilakukan dengan cepat sehingga bekerja di sebuah OS yang kita udah nyaman itu penting banget. Dari hari pertama ini saya udah ngerasa ada yang off sama ini orang dari cara pikirnya. Ternyata dia mau pake Mac karena sebelumnya gak pernah pake alias mau gaya-gaya-an aja. Untungnya dia inisiatif minta ganti laptop Windows setelah kehilangan sehari kerja. Laptop baru ini baru bisa dapet dua hari kemudian jadi minggu pertama ini udah ga efektif.

Kurang autonom, banyak nanya tapi malas usaha

Selama dia menginstall berbagai macam tools yang udah ada di guide newcomer, dia bolak balik manggil saya untuk tanya ini itu dan minta di guide untuk melakukan step-step yang padahal di dokumentasi udah cukup lengkap. Hal ini berlangsung selama beberapa hari di minggu pertama dan dia juga tanya ke engineer lain kalau saya lagi gak ada waktu untuk bantu. Nah, minggu depannya saya dipanggil manager secara private untuk ngasih tau kalau dia merasa si kolega baru ini terlalu bergantung sama saya dan kurang autonom dalam berprogres sehingga dia pengen kalau kedepannya saya tidak langung bantu ketika dimintain bantuan. Alias biarkan si anak baru ini berusaha dulu sendiri. Besok-besoknya, saya menemukan kalau pada kenyataannya nasehat ini susah susah gampang dipraktekkan. Si anak baru ini memang lebih suka nanya dan gak biasa berpikir panjang dan berusaha sendiri semaksimal mungkin sebelum nanya. Jadi yang bisa saya lakukan adalah bilang kalau saya baru bisa bantu nanti sore karna lagi ngerjain sesuatu dan berharap dia “terpaksa” berusaha sendiri. Pada akhirnya, momen seperti inilah dimana kapabilitas skill seseorang itu kelihatan. Kalau memang gak capable ya mau dibiarin sendiri sampe sore juga gak bakalan ada progres. Ya sudahlah ujung-ujungnya saya bantu karna kalau saya gak beres nge-coach dia, dia ga bakalan bisa mulai kerja di produk langsung.

Long story short setelah dua tiga minggu, dia bekerja langsung di sebuah produk bersama tester-tester lain yang kebetulan setengah tim produk tersebut berada di Minsk, Belarus. Challenge-nya adalah komunikasi lebih sering via call atau email. Berhubung meja saya tepat di depan meja si anak baru, setiap gerak gerik dia pasti saya notice. Pertama, dia rajin sekali ngambil coffee break. Sehari minimal 3 kali dan setiap break gak pernah kurang dari 15 menit. Well, sebenernya gapapa sih kalau kerjaan situ bagus. Namun semenjak dia kerja bareng tim di Minsk, setiap hari dia selalu nelpon seorang tester di Minsk untuk minta dijelasin panjang lebar. Setiap ada hambatan dia selalu nelpon, share screen dan minta di guide mengenai apa yang harus dia lakukan yang mana sekali call dia bisa menghabiskan waktu bisa sejam dan itu setiap hari.

Peer feedback ga ada yang bagus

Yang namanya manager biasanya gak bekerja langsung sama kita setiap hari dan setiap saat. Jadinya ketika manager mau mengevaluasi performa si anak baru, otomatis dia minta feedback dong dari beberapa peer yang bekerja langsung termasuk saya sendiri yang nge-coach dan juga dua tester engineer di Minsk. Feedback dari para engineer di Minsk sangat negatif mengenai kinerjanya. Ada yang merasa bahwa dia selalu mengulang kesalahan yang telah berkali-kali dijelaskan. Bahkan salah satu engineer wanita yang terkenal cukup sabar, baik hati nan lemah lembut saja mengirim email langsung ke manager kalau dia ga tahan dengan cara kerja si anak baru. Untungnya saya orang terakhir yang dimintain feedback, jadi manager cerita dulu komen dari yang lain dan walhasil saya cukup bilang setuju dengan pendapat lain. Walaupun saya punya banyak pendapat personal mengenai personality si anak baru, saya berusaha stick dengan opini-opini performa kerjanya saja. Ketika si anak baru diberikan feedback oleh manager, dia membela diri kalau permasalahan dia dengan para engineer di Minsk disebabkan karena dia gak bekerja tatap muka langsung sehingga banyak kesalahpahaman ketika berkomunikasi jarak jauh dan tidak bisa membangun hubungan relasi dengan cair.

Memperlakukan para kolega seperti teman lama?

Gak seperti di Indonesia dimana kolega kerjamu adalah temanmu, di Prancis kolega bukan teman. Jadi penting banget untuk behave se-profesional mungkin dan gak bertingkah seolah-olah kolega itu bro-bro atau sis-sis anda. Seiring dengan seringnya dia ngajakin coffee break, sesering itu pula dia berbagi mengenai cerita kehidupan pribadinya mengenai problematika dia dengan pacarnya, keluarganya, kisah-kisah *asik* dia nyobain dating application selama di Prancis, dll. Tak cukup memborbardir kita dengan kehidupan pribadinya, ketika dia putus sama pacarnya, dia berusaha mengajak *hampir* seluruh kolega wanita di kantor untuk nonton konser David Guetta bareng karena dia keburu beli tiket itu untuk tadinya pergi sama mantan pacarnya. Tentu saja tidak ada yang mau.

Empat bulan kemudian somehow sang manager mengundang tim dari Minsk untuk bekerja di kantor Paris selama seminggu. Nah disinilah dia mencoba berbagai macam pendekatan personal seperti sering ngajakin coffee break, etc. Kita sempet mengorganisir acara makan malam untuk tim Minsk di sebuah restoran dan setelah itu dilanjutkan dengan soirée di sebuah bar yang ada DJ dan dance floor-nya. Sambil ada yang minum sambil ngobrol, ada juga yang ngobrol sambil dance. Si anak baru berusaha bikin suasana seru dengan menggoda cewek-cewek entah dari mana untuk diajak nge-dance di area kolega-kolega pada ngumpul. Disitu ada manager kita, kolega-kolega dari tim lain juga beberapa manager tim lain yang pada *terpukau* dengan perilakunya. Bref, kalau situ pergi sama temen-temen sepermainan sendiri sih terserah ya mau ngapain aja, tapi di depan kolega-kolega profesional? Keesokannya jadilah bahan gosip mengenai attitude-nya.

Bertengkar dengan statement sentimental dan emosional

Well, memang setelah bertemu langsung lebih terbuka dan bisa ngobrol hal-hal diluar kerjaan sehingga lebih cair. Namun yang namanya di kerjaan, ujung-ujungnya orang bakal appreciate kalau kerjaan kita bagus gak sekedar networking doang. Beberapa minggu kemudian ya konflik lagi karena dia selalu mengulang kesalahan yang sama. Terlebih lagi ketika kita bekerja di open space environment, obrolan via call pun terdengar jelas dengan kolega-kolega yang berdekatan. Nah ketika perkerjaannya dikritik oleh kolega di Minsk via call, dia tersinggung dan merespon dengan kalimat-kalimat tidak profesional seperti “kamu kan bukan bos saya, kenapa saya harus mengikuti kata-kata kamu, saya gak perlu bicara dengan kamu lagi, dsb”. Ini bikin dia keliatan gak bisa berargumen secara logis dan emosional.

Key takeaways dan tips

  1. Jadi anak baru wajar sih banyak nanya. Tapi selain nanya penting juga sekalian berusaha dan nunjukkin kemampuan analisa dengan membaca banyak sumber dan menggali informasi kesana kemari. Apalagi masuk dengan sudah punya experiences.
  2. Setiap orang memang punya personaliti unik masing-masing yang sebenernya ga ada yang salah. Ada yang ekstrovert, introvert, terbuka, senang bergaul, pemalu, dan sebagainya. Tapi ketika kita mau berintegrasi di tempat baru, penting banget untuk mengamati lingkungan baru dan beradaptasi sesuai gimana orang-orang itu nyaman diperlakukan. Orang-orang eropa itu sebagian besar tertutup, jarang membahas masalah pribadi, butuh waktu lama untuk dekat dan nyaman dengan orang lain. Jadi ga perlu ujug-ujug curcol masalah percintaan.
  3. Be humble even if you’re a pro hire! Kalau anak baru fresh graduate dari kuliah biasanya lebih kalem dan masih punya mindset newbie, orang-orang experienced biasanya udah membawa know-how nya masing-masing dan punya habit cara kerja tertentu yang mungkin lebih susah untuk diubah. Sekali-kali penting juga buat kita kembali ke basic, rajin mencatat setelah dijelaskan, mengulang-ulang konsep dasar dan lebih sering mendengarkan.
  4. Make sure you can prove what you sells during interview process. Ketika interview, mungkin wajar kalau ada hal-hal yang kita lebih-lebihkan supaya bikin impres perusahaan dan bisa dapet kerja. Namun pastiin juga kalau kita bakal live up to the expectation. Kalau kita ngaku-ngaku fast learner, ya jangan odong-odong pas belajar hal baru. Kalau ngaku gampang beradaptasi ya harus tunjukkin kalau kita bisa membangun relasi yang baik dengan semua orang. Kalau ngaku jago skills tertentu ya tunjukin kalo kita fasih dalam menggunakannya ketika kerja.
  5. Last but not least, ikuti kata pepatah

When in Rome, do as the Romans do

Seperti layaknya pasangan, masalah itu biasanya terjadi bukan karena kesalahan satu pihak saja. Disini saya juga mengakui kalau manager dan perusahaan juga memiliki andil karena gagal dalam melakukan proses rekrutmen. Si anak baru ini direkrut tanpa proses interview langsung dengan peer-peer yang nantinya akan bekerja langsung dengan dia. Tahapan interview dia lakukan dengan HR, manager, VP engineering, bahkan dengan CTO. Padahal kan yang ujung-ujungnya kerja sama dia kan saya dan kolega-kolega engineer yang lain. Setelah kejadian ini, untungnya sang manager belajar dari kesalahan dan sekarang ini kita lagi berusaha merekrut pengganti dan saya dilibatkan di seluruh proses rekrutmen, menyiapkan pertanyaan teknis juga memberikan feedback. Semoga kita segera mendapatkan pengganti yang lebih baik 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.