Ngomongin orang India

Hal yang paling menarik ketika tinggal di luar negeri selain berbaur bersama orang lokal adalah ketika kita dapat bertemu dengan orang-orang dari berbagai macam negara. Memahami perbedayaan budaya dan karakteristik orang-orang dari berbagai negara untuk mengambil pelajaran dan berusaha mempraktikkan sebagian dari kebiasaan mereka yang baik selalu membuat saya excited. Program kuliah Master saya waktu itu berupa Master of science yang kebetulan adalah program internasional sehingga ada sekitar belasan kewarganegaraan yang berbeda. Perusahaan pertama saya bekerja berhubung terletak di kota kecil, hampir sebagian besar kolega orang-orang Prancis sehingga saya gak dapet lingkungan multikultural. Namun ketika ganti kerja ke selatan Prancis di Sophia Antipolis dan di kerjaan saya yang sekarang, lingkungannya sangat multikultural sehingga suasananya lebih positif. Dari berbagai orang asing yang saya temui, banyak banget hal-hal positif yang memengaruhi pola pikir dan kebiasaan-kebiasaan kecil saya untuk bisa survive di negeri orang selain membuat pikiran saya jauh lebih terbuka. Bergaul dengan orang-orang India ketika kuliah Master waktu itu cukup membekas di hati. Walaupun sama-sama orang Asia, namun saya merasa karakter kita cukup jauh berbeda dan ternyata banyak banget yang saya pelajari dari mereka. Terutama masalah survival kits dalam menghadapi hidup.

Kepedean

Efek personal terbesar saya adalah ketika bergaul dengan orang-orang India. Seperti halnya Indonesia, India adalah negara dengan banyak bahasa sehingga banyak perbedaan budaya. Karakter mereka juga sangat dinamis dan unik satu sama lain, tidak seperti orang-orang Eropa yang menurut saya kurang lebih sebelas duabelas. Dinamis disini maksud saya ada yang pendiam ada yang banyak omong, ada yang kepedean ada yang pemalu, ada yang sarkastik ada yang lembut, dsb. Selama 2 tahun kuliah Master, beberapa teman terdekat yang sering belajar bareng adalah orang-orang India. Hal pertama yang impresif adalah tingkat kepedean mereka. Percaya diri disini dalam berbagai hal, ketika bicara, menyampaikan pendapat, etc. Pede terlepas dari pinter atau nggak, juga pinter bluffing *yang ini gak tau bisa disebut poin positif atau nggak.

Ambis menghalalkan segala cara

Setelah itu yang bikin saya terkesan adalah usaha menghalalkan segala caranya ketika udah punya tujuan tertentu. Tujuan disini macem-macem, dari mulai biar lulus ujian, biar dapet nilai bagus, biar dapet magang, biar dapet kerjaan yang bagus, dan sebagainya. Mentalitas sebagian orang Asia yang masih mementingkan nilai, membuat teman-teman India saya ini gemar sekali mencari informasi kesana kemari mulai dari mendatangi kantor dosen secara langsung untuk mengorek-ngorek kisi-kisi ujian sampai mencari soal-soal tahun lalu dari teman-teman yang lain. Poin negatifnya, mereka cukup tertutup dengan circle mereka masing-masing dan kurang generous dalam berbagi informasi jika kita gak termasuk di lingkup pertemanan mereka.

Well prepared much ahead

Pada semester akhir di program Master, kami diwajibkan untuk magang di sebuah perusahaan atau lab riset. Jadwal magang semester akhir ini dimulai dari bulan Maret sampai September akhir sehingga kita diwajibkan mencari magang untuk durasi 6 bulan. Saya ingat waktu itu baru saja menyelesaikan tahun pertama dan ada liburan musim panas sekitar dua setengah bulan yang dimanfaatkan orang-orang untuk berlibur ataupun kembali ke negaranya masing-masing. Ketika kembali ke kampus untuk memulai semester baru sekitar akhir September dan bertemu dengan teman-teman India ini, eh ternyata mereka udah pada mulai nyari dan apply-apply untuk magang ke beberapa perusahaan dong. Gak santai amat yak! Padahal semester baru aja belum mulai. Beberapa teman dari negara lain saat itu juga belum mulai cari magang. Berhubung saat itu juga saya masih polos dan membawa habit ala jaman kuliah di Indonesia alias proscatinate jadilah saya santai-santai kaya di pantai aja dan baru mulai apply magang akhir Oktober seperti teman-teman lain. Waktu itu saya kelabakan banget, jarang dapet panggilan wawancara dan pertama kali dapet panggilan bulan Januari itupun gak diterima. Akhirnya setelah dag dig dug gak karuan, keterimalah magang pas banget di akhir bulan Februari untuk langsung mulai dalam dua minggu di France Télécom. Kejadian ini langsung menampar saya untuk tidak menunda-nunda dan gak kepedean seakan-akan semuanya bakal berjalan lancar.

Ketika kita baru mulai magang semester akhir, mereka bahkan langsung mulai cari kerja sehingga saya juga terpacu untuk langsung mulai mencari kerja jauh-jauh hari, mampir ke acara-acara job dating, job fair, dsb. Teman-teman India saya ini sudah sangat intens mencari kerja dan mulai interview kesana kemari sejak awal mulai internship sementara yang dari negara lain masih santai-santai menikmati magang. Hasilnya memang semua teman India saya sudah dapat kontrak kerja di tangan sebelum magang berakhir sementara yang lain masih harus nganggur dulu, ada yang berhasil dapat beberapa bulan setelah nganggur dan ada yang terpaksa harus kembali ke negaranya masing-masing atau pindah ke negara lain. If I need to give credit for getting a job right after I finished my internship, I will give it to my Indian friends. They did give pressure to start early and prepared much ahead.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.