Catatan bekerja di Prancis[10] – Dilema seorang introvert

Topik kali ini terinspirasi setelah beberapa hari lalu saya sempat berkumpul di acara perpisahan seorang teman yang akan pindah ke Thailand dari Prancis bersama beberapa teman lain yang tinggal di Prancis. Ketika kita sedang membahas segala macam problematika khas orang-orang asing dalam berintegrasi di Prancis, jatuhlah pembicaraan kita menuju perbedaan problematika yang kami hadapi akibat karakter masing-masing dari kami sebagai seorang introvert ataupun ekstrovert. Sebagai seorang introvert, tepatnya ISFJ, saya disini ingin berbagi pengalaman dan tantangan saya dalam berintegrasi di lingkungan kerja selama saya bekerja di Prancis. Sebelum menceritakan berbagai keluhan serta keresahan, saya ingin memulai dari keuntungan saya sebagai seorang introvert dalam beradaptasi di lingkungan kerja Prancis.

Benefit jadi introvert

Menjadi seorang introvert buat saya cukup membantu untuk get along quite well dengan orang Prancis. Alasannya adalah karena pada dasarnya mereka itu tertutup dan kurang approachable. Kalau kalian sering nonton serial Amerika dimana para bule saling menyapa dengan heboh ala-ala Whatsup man serta langsung seru mengobrol membuka aktivitas pribadi walaupun belum terlalu dekat, image orang Prancis sangatlah jauh dari itu. Memang sih mereka rajin bertegur sapa ala “Bonjour, ça va?” dan sebagainya, namun untuk lebih terbuka, ramah dan welcome butuh waktu lebih lama. Berhubungan dengan orang Prancis harus di maintain secara continue. Gak bisa kita tiba-tiba hilang lama terus berharap kembali beramah tamah dan dekat setelah lama tidak berkomunikasi. Disinilah dimana saya merasa sebagai introvert lebih gampang memahami mereka dalam membangun relasi sedikit demi sedikit sampai merasa nyaman untuk lebih terbuka satu sama lain. Ketika saya dekat dengan orang Prancis, kedekatan ini lebih personal dan tidak hanya sekedar di permukaan saja atau sekedar teman hangout, teman pause café, dsb. Berhubung saya tidak terlalu nyaman keseringan hangout tak menentu jika tidak jelas tujuannya, personality ini sangat membantu saya untuk beradaptasi dengan lingkungan Prancis.

Problematika introvert

Kurang unjuk gigi

Di kebanyakan situasi dan kondisi, saya dan kebanyakan orang introvert lainnya bukan termasuk orang yang gampang shout out about my accomplishments atau rajin memberikan kritik atau komentar mengenai suatu masalah jika tidak ditanya secara spesifik. Ini juga membuat orang-orang termasuk manager saya sering tidak paham jika saya ada kesulitan atau masalah atau tidak. Terkadang strength dan accomplishment agak lambat untuk terlihat kecuali oleh kolega-kolega yang bekerja langsung dengan saya. Saya juga tidak terlalu nyaman untuk mengritisi atau memberikan keluhan di depan umum. Namun untungnya hal ini terfasilitasi dengan one-to-one meeting dengan manager yang diadakan sekitar dua bulan sekali. Buat orang introvert, one-to-one relation lebih membantu untuk mengungkapkan secara jujur dan terbuka dibanding di depan banyak orang.

Kurang banyak nanya

Saya lebih suka menghabiskan banyak waktu belajar sendiri untuk memahami sebuah subjek dibanding bertanya atau menghabiskan waktu berdiskusi bersama kolega lain. Salah satu downfall nya adalah, kurang banyak nanya ini menyebabkan saya terkadang dikira tidak mengerti atau tidak bisa. Ini terjadi ketika saya pertama kali bekerja di Prancis setelah lulus Master, dimana saya lebih suka berpikir sendiri dan mencari jawaban lewat dokumentasi. Bertanya menurut saya merupakan jalan terakhir yang akan diambil. Ternyata hal ini membuat kebanyakan kolega saya berpikir kalau saya tidak mengerti apa-apa. Jadi di Prancis, terlalu kalem dan diam = gak paham. Sejak saat itu, saya selalu menyempatkan bertanya dan menyiapkan pertanyaan ketika meeting.

Kurang menjujung tinggi perdebatan – dianggap pasif

Saya tidak selalu memberikan pendapat dan komentar akan segala problematika yang terjadi ketika bekerja di sebuah projek. Sementara sebagian besar orang Prancis gemar sekali mengutarakan pendapatnya walaupun hanya untuk bilang kalau mereka gak peduli akan suatu masalah alias je m’en fou. Sebagai seorang introvert, saya paling males mengutarakan pendapat sebelum dipikirkan matang-matang ataupun berkomentar terhadap sesuatu yang menurut saya receh. Kegemaran berdebatnya orang Prancis ini sering sekali membuat saya tidak nyaman karena bisa berkelanjutan tak menentu sehingga terkadang waktu meeting sudah habis tetapi belum menghasilkan solusi.

2 thoughts on “Catatan bekerja di Prancis[10] – Dilema seorang introvert

  1. Hai Icha, salam kenal, namaku Cuni. Dr dulu udah suka baca blog-nya, tapi ga pernah komen heheh. Tau Icha juga karena temenku Rezzy waktu itu pernah cerita lagi main ke tempatmu di Antibes. Hehe. Sekarang tinggal di Paris ya? Aku jg di Paris, mgkn kapan2 bs ketemu 🙂

    1. Halo Cuni! Salam kenal juga ya. Aku juga suka baca blognya terutama kisah2 Marokonya yang jadi referensi 😀 Iya sekarang tinggal di Paris. Boleh yuk kapan2 ktemu aku bakal lowong akir bulan. Cobaa add di IG yaa @tampakrupa

Leave a Reply to Cuni Candrika Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.