Paris untuk turis vs. Paris untuk warga

Jadi ceritanya, dari beberapa bulan ini saya hinggap di Paris sehingga menarik untuk berbagi mengenai topik ini.

Apa sih maksud dari judul post kali ini? Untuk para temans yang penasaran mengenai kehidupan di ibukota Prancis ini, ada rumor yang berkembang se-Prancis raya semenjak dahulu kala di antara orang-orang Prancis asli yang berupa..

Paris itu adalah kota yang indah, menarik dan cantik dimata para turis namun kota yang sumpek, hektik dan melelahkan untuk warga yang tinggal di Paris.

Sebagian besar orang Prancis lebih memilih untuk settle bekerja, berkeluarga di Provence (sebut saja kota-kota kecil, desa, dsb di luar Paris) karena hidupnya lebih teratur dan kotanya lebih tenang. Apa aja sih sebab munasabah tercetusnya rumor tersebut?

Maheul oh mahalnya biaya hidup

Sebenernya yang paling menunjang kemahalan biaya hidup di Paris adalah harga tempat tinggal. Saking mahalnya harga sewa apartement di kota Paris, kebanyakan orang lebih memilih tinggal di pinggir kota alias banlieue (macemnya Bintaro, Bekasii sama Depok). Pengalaman pribadi nih ya ketika saya tinggal di Nice, dengan harga sewa furnished appartment 844€ per bulan, saya bisa dapet T2 (1 ruang tidur, 1 ruang tamu, ruang dapur terpisah) seluas 54m2, bahkan ada 2 balkon. Sekarang di Paris, dengan 800€ per bulan saya hanya dapet studio seluas 15m2 saja dong temans. Kapan-kapan saya bagi deh fotonya 😉

Mengutip kata-kata yang pernah diucapkan salah satu kolega “on paie, on paie, mais on sait pas pourquoi on paie” yang intinya kita selalu bayar ini bayar itu, tapi kita gak tau kenapa kita musti bayar segitu.

Nonton piala dunia 2018 di depan Eiffel – saksi mata hiruk pikuk perayaan

Métro, boulot, dodo

Ini adalah ekspresi yang dibikin oleh Pierre Béarn sejak tahun 1968 yang menggambarkan kesehariannya warga Paris yang intinya adalah you live to work.

Métro, ala-ala KRL untuk pulang pergi ke kantor. Mahalnya harga sewa di kota Paris yang membuat kebanyakan warga Prancis tinggal di pinggiran kota, tentunya waktu tempuh pulang pergi ke kantor semaking panjang temans, yaitu antara 1-1,5 jam yang kalau ditotal-total setiap hari bisa 2 jam-an habis di perjalanan. Yah, mirip-mirip kali yak sama yang commute buat kerja di Jakarta. Namun, menghabiskan waktu di transport yang lumayan lama ini sangat-sangat tidak menyenangkan dilihat dari kebersihannya, bau pipis di seperjalanan lorong-lorong antar transit métro, dan sebagainya.

Boulot, kata slang untuk bekerja.

Dodo, sebutan unyu untuk bobok. Karena setelah kerja musti menghabiskan waktu lagi di métro, setelah pulang yang seharusnya masih ingin beraktifitas lain seperti olahraga, memasak cantik, kongkow-kongkow hanya tinggal di angan-angan saja. Udah lelah dan cuman bisa dodo. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.